ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Guruh Mengiringi Ikrar Sumpah Pemuda, OPSHID Karawang Teguhkan Pengabdian
· 3 menit baca · Diperbarui
Tasyakuran Sumpah Pemuda diwarnai gemuruh petir dan hujan lebat, namun demikian OPSHID Karawang tetap melanjutkan acara dengan penuh hikmat, meskipun harus pindah tempat.
Oleh: Gandawulan
KARAWANG — Gemuruh petir mengiringi berakhirnya pembacaan ikrar Sumpah Pemuda dalam tasyakuran Sumpah Pemuda yang dilaksanakan oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Karawang, Rabu (28/10/2026). Dalam rangkaian acara tersebut, seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza dengan penuh hikmat dan ditutup dengan penyerahan tali asih kepada 10 anak yatim dan dhuafa.
Kegiatan berlangsung sejak pukul 19:30 di pendopo Wojo Kebak Kamulyan, Karawang. Ketika hujan deras disertai angin kencang mengguyur lokasi, rangkaian acara sempat terhenti sebelum dilanjutkan di dalam gedung workshop.
Peserta bahu membahu memindahkan TV, speaker, makanan, minuman dan perlengkapan acara yang basah terkena air hujan ke dalam gedung workshop. Peristiwa ini mengingatkan kita tentang perjuangan pemuda saat itu dengan kepedulian kepada sesama.
Ikrar di Tengah Gemuruh Langit
Sejak sore, langit Karawang tampak mendung dengan udara yang terasa pengap. Dalam suasana itu, para pemuda mempersiapkan peringatan meski waktu persiapannya terbatas.
Rangkaian kegiatan mencakup pembacaan Al-Fatihah, doa Nabi Ibrahim (untuk keselamatan negara dan bangsa), serta menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza. Peserta juga mengikuti pembacaan Sumpah Jati Diri Bangsa dan ikrar delapan kesanggupan warga Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Suasana membekas ketika teks Sumpah Pemuda dibacakan bersama. Gemuruh kecil dan suara burung merak sempat terdengar sebelum kilatan petir serta dentuman guruh menggelegar beberapa kali sesaat setelah ikrar selesai.
Dalam catatan reportase Gandawulan, momen itu terasa seakan alam turut menyaksikan ikrar para peserta. Kesan tersebut menjadi refleksi atas suasana kegiatan, sementara hujan yang menyusul membuat panitia memindahkan acara dari pendopo terbuka ke dalam gedung workshop.
![]()
Menurut E.J. Purnomo dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) OPSHID, dalam sambutannya, memaknai gejolak cuaca tersebut sebagai gambaran semangat pemuda. Ia menghubungkannya dengan gelora persatuan yang tumbuh dalam Kongres Pemuda 1928.
Merawat Ingatan tentang Persatuan
Peringatan ini bertolak dari semangat pemuda-pemudi 1928 yang mempertemukan perbedaan suku, agama, dan bahasa dalam ikrar kebangsaan. Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 juga menjadi tempat W.R. Soepratman pertama kali memperdengarkan Indonesia Raya melalui permainan biola. [Museum Sumpah Pemuda](https://muspada.kemenbud.go.id/sejarah-sumpah-pemuda/?utm_source=chatgpt.com)
![]()
Bagi OPSHID Karawang, kedua peristiwa tersebut menjadi sumber inspirasi untuk merawat persatuan dan kecintaan terhadap tanah air. Tasyakuran juga diselenggarakan sebagai pelaksanaan petunjuk Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtaba Mu’thi.
Bahan refleksi kegiatan merujuk pula pada majalah majalahalkautsar.com edisi 216, yang menyandingkan Sumpah Pemuda dan Indonesia Raya sebagai “Dwi Tunggal Sakti”. Keduanya dipandang sebagai kekuatan yang mendorong persatuan serta perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dari Tali Asih hingga Rumah Syukur
Di tengah rangkaian peringatan, OPSHID Karawang menyerahkan tali asih secara simbolis kepada 10 anak yatim dan dhuafa. Kepedulian sosial menjadi bagian dari cara peserta memaknai rasa syukur atas perjuangan generasi terdahulu.
![]()
Semangat pengabdian itu juga diwujudkan melalui keterlibatan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) OPSHID Karawang dalam pembangunan satu unit Rumah Syukur di Cirebon. Hunian gratis tersebut dibangun dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda ke-98 dan masih dalam tahap pengerjaan.
![]()
Pembangunannya melibatkan OPSHID Zona 3 Jawa Barat, termasuk Karawang, Bogor, Cirebon, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Depok, serta DPD OPSHID lainnya di Jawa Barat.
Di Karawang, hujan lebat tidak menurunkan semangat meskipun harus berpindah tempat acara. Sementara itu, melalui tali asih dan pembangunan Rumah Syukur, adalah sebagai wujud memfaktakan Sumpah dalam gerak manfaat untuk masyarakat.
karawang.opshidmedia.net