ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
98 Tahun Silam, Kiai Mukhtar Mu'thi Lahir di Tengah Prahoro
· 1 menit baca · Diperbarui
Tepat 98 tahun silam, Ahad Kliwon menjelang fajar, 14 Oktober 1928, angin ribut menerjang Desa Losari, Kecamatan Ploso, Jombang. Hampir semua rumah hancur, dan hanya satu yang selamat. Di rumah itulah Mochammad Mukhtar Mu'thi dilahirkan.
Bayi itu kelak dikenal sebagai Kiai Mukhtar Mu'thi, atau Kiai Tar. Dialah sosok yang menghidupkan kembali Tarekat Shiddiqiyyah, tarekat yang kini disebut memiliki jutaan pengikut.
Menurut buku Sejarah Thoriqoh Shiddiqiyyah Fase Pertama, Kelahiran Kembali Thoriqoh Shiddiqiyyah (2015), angin pagi itu menewaskan puluhan orang dan menumbangkan pohon-pohon. Atap sebuah gudang kayu di utara Losari bahkan terlempar hingga ke dekat Sungai Brantas, sekitar 1,5 kilometer jauhnya.
Warga menyebut peristiwa itu prahoro, yang berarti keributan.
Mukhtar merupakan putra keenam pasangan KH. Abdul Mu'thi dan Nyai Nasikhah. Penanggalan Hijriah mencatat hari kelahirannya pada 28 Rabiul Akhir 1347 H.
Tanah bekas rawa
Dukuh tempat Mukhtar dilahirkan bernama Losari Rowo. Letaknya di tepian Sungai Brantas, kira-kira 10 kilometer di utara Kota Jombang.
Nama "Rowo" melekat karena wilayah itu dulunya berupa rawa. Kakek Mukhtar, Kiai Achmad Syuhada, bersama saudaranya mengubah rawa tersebut menjadi lahan yang layak dihuni.
Warga juga menyebutnya Losari Pesantren. Lebih dari setengah abad sebelum Mukhtar dilahirkan, Kiai Syuhada mendirikan Pesantren Kedungturi di sana.
Ramalan sang kakek buyut
Kelahiran Mukhtar, menurut kisah keluarga, sudah diramalkan jauh hari. Ketika Nasikhah masih gadis, kakeknya, Kiai Zamroji, berujar bahwa kelak cucunya akan memiliki anak laki-laki yang nukuli.
Dalam bahasa Jawa, nukuli bermakna mampu menumbuhkan sesuatu.
Para pengikutnya meyakini ramalan itu terbukti. Mukhtar Mu'thi kelak membawa pengaruh besar bagi kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Jombang, khususnya Losari, melalui Tarekat Shiddiqiyyah.
Pengaruh itu tumbuh dari cara yang tak lazim. Ketika kebanyakan kiai mengenalkan tarekat melalui Islam, Kiai Tar menempuh arah sebaliknya: mengenalkan Islam melalui tarekat.